Ads: 300x250

Top Blogs Sports
Free Backlink Free Backlink ZonaMaya Free Backlink

World News

KLASEMEN LIGA EROPA »
Priemier League premier league
1 Manchester City 34
2 Manchester United FC 29
3 Newcastle United 25
LA Liga premier league
1 Real Madrid CF 31
2 FC Barcelona 28
3 Valencia 24
Serie A premier league
1 Juventus 22
2 Lazio 22
3 AC Milan 21
Tampilkan postingan dengan label Dunia Suporter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Suporter. Tampilkan semua postingan

16 Des 2011

Dapat Rp 50 Juta, Persidmania akan Bisnis Merchandise

Suporter Persid Jember (Persidmania) yang tergabung dalam Berni bersyukur mendapat bantuan Rp 50 juta dari APBD tahun 2011.

"Saat ini, dana bantuan itu akan diputar dalam bentuk penjualan kaos dan merchandise Berni yang lain. Tapi manajemennya masih manajemen kaki lima. Yang penting jalan dulu," kata Ketua Umum Berni Agus Rizki.

Uang hasil penjualan merchandise akan digunakan Berni Persidmania untuk kepentingan mendukung Persid selama ini. saat mendukung Persid semasa musim kompetisi Divisi I lalu, setiap kali laga kandang, Berni setidaknya butuh sejumlah truk dan mobil bak terbuka untuk mengangkut suporter dari seluruh penjuru Jember ke stadion Notohadinegoro.

"Itu belum lagi biaya untuk air mineral dan kembang api, dan lain-lain. Bisa mencapai Rp 3,5 juta setiap kali laga home. Jadi tinggal mengalikan berapa laga home yang dijalani Persid," kata Agus.

Itu biaya kompetisi Divisi I lalu. Kali ini, Berni sudah memiliki klub amatir sendiri yang resmi berlaga di kompetisi internal PSSI Jember. "Kami juga perlu biaya untuk pembinaan Berni Union FC," kata Agus.

Biaya bisa semakin membengkak, jika Berni mengirimkan perwakilan untuk menghadiri acara sarasehan atau konsolidasi suporter di luar kota. "Jadi kami bersyukur mendapat bantuan ini," kata Agus. [wir/beritajatim]

13 Des 2011

Pesan Mourinho untuk Fans Madrid

Madrid - Kalah 1-3 atas Barcelona menyudahi rangkaian impresif Real Madrid dan membuat banyak fans Los Merengues terpukul. Untuk pendukung timnya yang merasa kecewa, Jose Mourinho punya pesan singkat.

"Pesan? Dua kata: kami memimpin (klasemen)."

Pernyataan tersebut dilontarkan Mourinho terkait kekalahan Madrid atas Barcelona dalam duel El Clasico akhir pekan kemarin. Meski unggul lebih dulu di menit pertama, Iker Casillas cs menyudahi laga sebagai pihak yang kalah dengan skor 1-3.

Hasil tersebut terasa pahit bukan hanya karena status Barca sebagai musuh bebuyutan. Lebih dari itu, Lionel Messi dkk juga menyudahi catatan sangat baik 'Si Putih' yang sebelumnya selalu menang 15 pertandingan beruntun di semua kompetisi.

Diakui Mourinho, kekalahan di Santiago Bernabeu tersebut menggerus euforia yang sebelumnya dirasakan fans Madrid. Namun karena kekalahan tersebut belum menggeser Madrid dari posisi teratas, Mourinho tak mau berlama-lama meratapi hasil laga tersebut.

"Saya melihat ada perubahan itu. Bukan pekerjaan saya untuk mencari tahu soal itu. Saya berdedikasi untuk bekerja, untuk mengembangkan (tim) dan berusaha menang. Mungkin itu merupakan konsekuensi dari dimensi sejarah klub ini."

"Saat kekalahan menjadi sebuah masalah itu hebat. Saya lebih memilih kalah di pertandingan terakhir dan masih memiliki kesempatan sendirian memuncaki klasemen di hari Sabtu," tuntasnya.

source

12 Des 2011

Dualisme kompetisi, aksi basi yang tak seksi


Prihatin.... mungkin satu kata itulah yang patut untuk diberikan kepada kondisi sepakbola di negeri kita tercinta Indonesia saat ini. Mengapa tidak? Carut marut pengelolaan Liga sampai saat ini masih juga belum terselesaikan, tapi malah diganggu oleh pengurusnya sendiri yang berkhianat.

Seperti halnya kisah politik sepak bola Indonesia mengalami gejolak yang mungkin diluar akal sehat,  dualisme kompetisi sepak bola yang sama-sama mengaku profesional muncul diawal Kepengurusan PSSI dibawah Djohar Arifin Husin.

Kompetisi Indonesia Premier League (IPL) liga resmi berada di bawah komando Persatuan Sepak-bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam naungan PT LPIS (Liga Prima Indonesia Sportindo) terlebih dahulu dilaunching, sebelum akhirnya Satu kompetisi lain bernama Indonesia Super League (ISL) berada di bawah naungan PT. LI (yang notabene PSSI sebagai pemegang saham mayoritasnya) yang malah "mbalelo" karena pengurusnya adalah yang wajah-wajah lama dalam sepakbola Indonesia dengan dukungan dana dari pengusaha tertentu juga resmi digulirkan.

Ketika satu kompetisi resmi dan turnamen yang seolah-olah liga ini sama-sama telah dimulai bola panas bergerak tak beraturan, satu sama lain saling klaim bahwa liga yang digulirkan nya adalah paling bermutu, antara Liga versi PT.LI maupun PT. LPIS saling berebut anggota untuk mengarungi liga masing-masing.

Adanya dua kompetisi tersebut dirasakan bukan menciptakan aura kompetisi yang baik tapi cenderung malah sebaliknya, masalah kian meruncing ketika juara liga PSSI 2010-2011 (waktu itu bernama ISL) yaitu tim persipura, gagal mengikuti kompetisi Liga Champion Asia dikarenakan terbentur status Liga yang diikuti tim persipura saat ini, kerugian tentunya buat Indonesia ketika harusnya ada perwakilan yang membawa nama inidnesia harus tercoret dari kancah Liga Champion Asia.

Tak hanya dilevel klub adanya dualisme tersebut berdampak pada adanya pelarangan pemain yang berlaga diliga versi PT.LI untuk masuk ke Timnas PSSI, sebuah kerugian kembali diterima Indonesia tentunya jika talenta-talenta pemain hanya terbuang sia-sia dalam suatu kompetisi tanpa ada hilirnya yaitu Tim Nasional. sebuah dilema adanya ketika hal-hal itu terjadi saat ini, masyarakat awam pecinta sepakbola hanya bisa dibuat terdiam karena langkah-langkah petualang sepakbola era rezim lama yang merasa paling hebat dan pintar dalam pengelolaan Sepakbola Indonesia.

Menarik jika kita menilik beberapa landasan ketentuan berikut :

Pasal 15, ayat 1, statuta PSSI :  (Kewajiban Anggota)
Para anggota PSSI mempunyai kewajiban : khususnya di point.c : Ikut serta dalam kompetisi dan kegiatan sepakbola lainnya yang diadakan oleh PSSI

Pasal 79 Kompetisi : (1) PSSI mengatur, mengelola dan menyelenggarakan kompetisi-kompetisi resmi di dalam wilayahnya sebagai berikut :
a. Kompetisi Profesional
b. Kompetisi Amatir
c. Kompetisi Kelompok Umur
d. Kejuaraan sepakbola wanita
e. Kejuaraan Futsal

Pasal 79 Statuta FIFA edisi 2010 sebagai berikut:
  1. Pertandingan atau kegiatan olahraga tidak boleh dilakukan antara anggota dan asosiasi yang bukan merupakan anggota FIFA atau anggota sementara dari Konfederasi, atau klub mereka, tanpa persetujuan dari FIFA.
  2. Pertandingan melawan tim yang pemainnya tidak berasal dari satu klub atau satu liga yang terafiliasi dengan anggota FIFA adalah terlarang.
  3. Para anggota dan klub-klub mereka dilarang bermain di wilayah anggota lainnya tanpa persetujuan dari pihak yang disebut terakhir.

Dari pasal diatas tertera jelas bahwa FIFA, dan PSSI hanya mengakui segala perangkat sepakbola disuatu negara yang juga diakui oleh organisasi resmi sepakbolanya.

Bisa diartikan baik pemain maupun klub yang berdiri diluar naungan PSSI hanya akan bisa berkecimpung sampai level dalam negeri saja. Jika kita menilik tujuan awal dari adanya kompetisi yaiu untuk membentuk Tim nasional yang handal yang bisa berlaga dikancah internasional, tentunya adanya kompetisi yang bergulir diluar naungan PSSI menjadi sebuah langkah mundur, dimana talenta-talenta yang ada yang seharusnya bisa membuat harum indonesia hanya bisa berkiprah dilevel lokal saja tanpa bisa membawa nama negara.

Menjadi sebuah kelucuan yang menggelitik insan bola di Indonesia tentunya, kenapa permasalahan yang sebenarnya bisa menambah kuat sepakbola negeri ini malah menimbulkan efek sebaliknya, luar biasa tentunya indonesia dipenuhi orang-orang cerdas dalam hal pengelolaan Industri Sepakbola, hal itu terbukti dengan adanya dua pengelola kompetisi yang berbeda yang masing-masing mengaku paling profesional, bukankah harusnya dengan adanya dua pengelola akan dapat saling melengkapi bersama membangun industri sepakbola yang bertujuan satu agar Indonesia bisa lebih berbicara diajang sepakbola internasional.

Andai semua duduk bersama dalam jalur yang benar dibawah naungan PSSI prestasi buat Sepakbola Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil, apapun yang terjadi hanya PSSI sebagai organisasi yang sah diakui oleh FIFA sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam olahraga sepakbola internasional. Sebaliknya jika masing-masing pihak masih selalu mempunyai klaim “paling hebat, paling berpengalaman, palingbenar”  itu hanya akan mengantar kepada kehancuran sepakbola dinegeri ini.

Penulis
Wakhid Y. Hastanto
Ketua Pasoepati Jakarta

Penonton Histeris Sambut Bachdim




Madiun - Ribuan penonton yang memenuhi Stadion Willis Kota Madiun, langsung berteriak histeris saat Irfan Bachdim, dipangil namanya dan memasuki lapangan saat laga lanjutan LPI antara Persija Jakarta melawan Persema Malang.

Teriakan tersebut berasal dari penonton yang didominasi oleh wanita. Bahkan mereka juga berloma mengambil foto, meski jarak antara tribun dengan pinggir lapangan lebih dari sepuluh meter.

"Bachdim.......Bachdim............Bachdim!" teriak sejumlah penonton, Senin (12/12/2011).

Salah satu penonton, Nani yang berasal dari Madiun, mengaku datang ke stadion memang kusus untuk melihat bintang Persema yang namanya mencuat saat piala AFF beberapa waktu yang lalu ini. "Saya gak suka sepak bola. Tapi ini kan ada Bachdim jadi harus nonton soalnya orangnya cakep," ucapnya, pada beritajatim.com.

Sementara itu pertandingan lanjutan LPI yang berlangsung dalam guyuran hujan deras kedua tim tetap memperagakan permainan dengan tempo yang cepat dan sedikit kasar. [rdk/butberitajatim]

11 Des 2011

Foto HOT Model Larissa Riquelme, Suporter Paraguay



Banyak yang menempatkan sepak bola sejajar dengan agama di Amerika Latin. Terdengar kontroversial memang. Namun, inilah kenyataannya. Sepak bola adalah segalanya, merasuk ke setiap ke elemen masyarakat. Dari jalanan hingga parlemen, dari pengemis hingga para selebritis.
Aksi gila tak hanya terjadi di lapangan hijau. Di pinggir lapangan, tak kalah nekatnya. Di Piala Dunia 2010, sosok Larissa Riquelme sempat jadi perhatian.

Siapa tak tergoda menyaksikan wanita cantik berpakaian seksi di bangku penonton saat Paraguay bersua Slovakia. Hebohnya, di belahan dadanya terselip handphone merek Nokia terbaru yang menjadikannya sarana promosi. Yang lebih heboh lagi, Riquelme umbar pernyataan kontroversial. “Jika Paraguay juara, saya akan telanjang berkeliling stadion,” ujar model 26 tahun tersebut waktu itu.

Riquelme memang tak jadi mewujudkan “nazarnya” karena Paraguay gagal menjadi juara. Namun, usai Piala Dunia, namanya telanjur dikenal dunia. Media olahraga terbesar di Spanyol, Marca, bahkan memberinya julukan “Kekasih Piala Dunia.”

Ajang Copa America 2011 yang tengah berlangsung di Amerika, kembali menjadi “panggung show” bagi Riquelme. Dia kembali hadir untuk mendukung negaranya.

Sebelum Paraguay bermain imbang tanpa gol dengan Ekuador, Senin, 4 Juli, Riquelme juga kembali membuat pernyataan menghebohkan. “Jika Paraguay juara Copa America, saya akan lari telanjang mengelilingi stadion,” ucapnya seperti dikutip AFP.

Terlepas dari ide gilanya itu, Paraguay beruntung memiliki suporter sefanatik Riquelme. Saat laga Paraguay-Ekuador di Brigadier General Estanislao Lopez Stadium dia membentangkan spanduk bertuliskan “Suporter paling setia kembali hadir.”

Kehadiran Riquelme tak percuma. Hasil imbang ini membuat Paraguay untuk sementara sejajar dengan juara bertahan Brasil di Grup B. Setidaknya, masih ada harapan untuk membuktikan janjinya jika Paraguay mampu membuat kejutan. Kita nantikan saja.

Berikut Foto foto nya :

10 Des 2011

Ratusan Suporter Dukung Liga Resmi PSSI

SOLO - Ratusan orang suporter sepakbola di kota Solo, Jawa Tengah Pasoepati menggelar aksi unjuk rasa untuk mendukung bergulirnya Indonesian Premier League (IPL) sebagai liga resmi di bawah PSSI. Massa aksi juga menolak kompetisi ilegal yang digelar oleh PT Liga Indonesia.

Dukungan bergulirnya kompetisi sepakbola nasional resmi besutan PSSI muncul dari kota Solo, Jawa Tengah pada Jumat (9/12/2011) malam, ratusan orang suporter sepakbola yang biasa dikenal dengan nama Pasoepati menunjukkan sikap mendukung IPL.

Mereka dengan menggelar aksi unjuk rasa di bundaran monumen pers, yang berada di depan balai Persis Solo dan rumah dinas Wakil Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo yang juga menjabat sebagai ketua umum Persis Solo.

Massa aksi membawa poster-poster yang berisi pesan untuk menolak kompetisi di bawah PT Liga Indonesia yang dimotori oleh Joko Driyono. Selain itu, poster juga berisi pesan agar jangan menodai kongres PSSI di Solo dan memilih liga resmi PSSI sebagai harga mati yang harus dipilih oleh klub-klub untuk berkompetisi.

Aksi tersebut dipimpin langsung oleh presiden Pasoepati Bimo Putranto. Menurut Bimo Putranto, dualisme klub tidak hanya terjadi di kota Solo saja, tetapi juga di daerah-daerah lainnya yang disebabkan munculnya liga di luar liga resmi PSSI. Beberapa waktu terakhir memang muncul polemik di kota Solo terkait adanya dua klub dengan nama Persis Solo, yang berlaga di dua kompetisi berbeda tersebut. Klub yang memilih berlaga di kompetisi PT Liga Indonesia tidak didukung oleh pengurus-pengurus resmi Persis Solo.

sumber

8 Des 2011

Pendukung Persipura Minta Ketua Umum PSSI Mundur

Jakarta: Massa yang mengatasnamakan diri Aliansi Rakyat Papua hari ini, Kamis (8/12) menggelar unjukrasa di depan kantor PSSI, Senayan, Jakarta. Mereka mendesak ketua PSSI dan jajaranya mundur dari kepengurusan.

Mereka menyesalkan keputusan PSSI yang membatalkan hak Persipura sebagai klub yang mewakili bangsa dan negara Indonesia untuk berlaga di Liga Champion Asia dianggap telah melukai dan mengecawakan rakyat Papua yang selama ini telah membela Timnas dalam berbagai pertandingan.

"Kami mendesak kepada Djohar Arifin Husin, Bernard Limbong, Sihar Sitorus, Saleh Mukadar Uman Fakaubun, dan Widjajanto untuk segera mundur dari PSSI dan persepakbolaan Indonesia dalam waktu 3 x 24 jam," ujar Presiden Ogud Persipura Mania Jakarta Chakino Rossiry di stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (8/12).

Mereka juga mendesak kepada ketua umum PSSI dan jajaranya untuk segera menyatakan permohonan maaf kepada rakyat Papua secara berturut-turut selama 5 hari di dua media massa, yakni media elektronik maupun cetak nasional.
Para pengunjukrasa bertekad terus menggelar aksinya hingga PSSI mengabulkan tuntutan mereka memasukan Persipura untuk berlaga di Liga Champion Asia. (ari/liputan6)

7 Des 2011

Pasoepati tolak dualisme tim Persis Solo

Puluhan Pasukan Suporter Solo Paling Sejati (Pasoepati) Rabu menggelar aksi di bundaran patung Obor di depan Gelora Manahan Solo, Jawa Tengah, dan menyatakan menolak dualisme Tim Persis Solo.

Puluhan punggawa Pasoepati tersebut dalam aksinya menyatakan mendukung Tim Persis Solo yang mengikuti kompetisi resmi Liga Prima Indonesia di bawah naungan PSSI.

Pengunjuk rasa selain melakukan orasi juga membawa sejumlah poster dan spanduk yang diantaranya bertuliskan "Persis Solo hanya satu, Liga resmi Yes, Persis Solo Liga amatir no, dan Tolak dualisme dukung PSSI".

Koordinator aksi Satrio Wibowo yang juga Suku Pasoepati from Solo With Love, dalam orasinya menyatakan, pihaknya menolak adanya dualisme tim Persis Solo.

"Persis Solo hanya satu yang mewakili kota ini, bukan dua. Mereka yang ikut kompetisi liga resmi di bawah PSSI," katanya disela orasinya.

Menurut dia, Persis merupakan tim kebanggaan masyarakat Solo, jangan dikacaukan dengan munculnya tim tandingan yang kualitasnya amatiran.

"Kami suporter Pasoepati akan mendukung Persis yang memiliki kualitas profesional dan resmi mengikuti kompetisi di bawah naungan PSSI," katanya.

Sementara pengunjuk rasa setelah melakukan yel-yel di bundaran patung obor kawasan Manahan, mereka langsung membubarkan diri dengan tertib.

Menurut Presiden Pasoepati Bimo Putranto, Persis Solo sejak berdiri pada 1923 hanya satu, dan Pasoepati tetap komitmen mendukung tim resmi di bawah PSSI.

Pihaknya yang paling menentang munculnya tim Persis tandingan yang akan mengikuti kompetisi Divisi Utama versi Badan Liga Indonesia (BLI).

Menurut dia, Persis tetap mengikuti kompetisi yang memiliki legitimasi dari PSSI. (
Suryanto/ANTARA)


6 Des 2011

Suporter Tolak Persiku Bermain di Bawah PT LI

Persiku News - Keinginan manajemen Persiku Kudus yang ingin berlaga di kompetisi luar PSSI mendapat reaksi keras dari pendukung setianya.Pada pertandingan uji coba melawan Madiun Putra di Stadion Wergu Kudus kemarin,pendukung Persiku yang tergabung dalam Suporter Macan Muria (SMM) dengan tegas menolak keinginan tersebut.

Mereka membentangkan spanduk hitam bertuliskan ”PT LPIS = LEGAL, DIAKUI OLEH AFC,FIFA.PT LI = HARAM”.”Kami berharap manajemen mempertimbangkan secara matang sebelum mengambil langkah. Mengikuti kompetisi di luar PSSI sama saja mempertaruhkan sepak bola Kudus.

Ketika Persiku dicoret dari PSSI dan mendapat sanksi, itu artinya publik Kudus tidak memiliki tim sepak bola yang selama ini mampu menjadi hiburan sekaligus kebanggaan kami,”kata dirijen SMM, Ayik Iswandi, kemarin. Dia menambahkan,mengikuti kompetisi di bawah PSSI akan lebih baik bagi Persiku.Selain secara hukum dinilai sah dan diakui otoritas sepak bola dunia, kalangan suporter juga tidak waswas dengan masa depan tim kebanggaannya itu.

”Persiku tim kecil,tidak perlu terbawa arus.Lebih bijaksana apabila kita mengikuti kompetisi yang legal.Kami berharap suara kami bisa didengarkan,” imbuhnya. Manajemen Persiku sejak awal memang memilih berkompetisi di bawah PT Liga Indonesia (PT LI).Meskipun di jadwal Grup II Kompetisi Level II,nama Persiku masih tercantum,namun manajemen mengabaikannya.

Bahkan, sebagai bukti keseriusannya mengikuti kompetisi di luar naungan PSSI,Persiku tidak akan datang pada laga perdana menghadapi Persikab Kabupaten Bandung. Sementara itu,pada laga uji coba kemarin Persiku sukses mendulang kemenangan 1-0.Gol semata wayang tuan rumah dilesakkan striker asal Chad, Appoliner di pertengahan babak pertama.Meskipun menang,pelatih Riono Asnan mengungkapkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

”Sejumlah kelemahan masih ada. Baik di lini belakang,sektor gelandang,maupun baisan depan.Ini harus segera diperbaiki,”ucap Riono usai pertandingan. Disinggung mengenai kualitas pemain asing yang tengah diseleksi,Riono belum menemukan kriteria sesuai kebutuhan tim.Walaupun mencetak gol,Appoliner langsung dicoret dari barisan pemain.

Sedangkan,gelandang Persiku musim lalu yang kembali ikut seleki,Alejandro Tobar masih akan dipantau lagi.Dari hasil pertandingan tersebut,Tobar terlihat cukup bagus dalam menyerang, namun tidak memiliki naluri dalam bertahan. ”Tobar belum mampu menjadi penyeimbang tim saat menyerang maupun ketika tim dalam tekanan.Saya akan lihat lagi kualitasnya,”tambah dia.

Aremania Pelopor Revolusi, Bonek Pelopor Delegitimasi PSSI

Surabaya  - Saya adalah orang yang paling sedih sekaligus senang, ketika ribuan Bonek melakukan tret-tet-tet ke Bandung, untuk menyaksikan laga Persib melawan persebaya, Sabtu (23/1/2010) malam. Bagi saya peristiwa ini mengandung hikmah penting.

Saya sedih, karena sebagian Bonek masih berperilaku brutal. Apapun alasannya, melakukan aksi kerusuhan di Solo tidak bisa dibenarkan. Aksi kerusuhan hanya menodai upaya keras Bonek untuk mengubah citranya yang negatif selama ini. Saya berharapa aparat keamanan bisa bertindak lebih tegas terhadap Bonek yang melakukan kerusuhan. Akibat mereka yang melakukan kerusuhan, citra Bonek yang mulai membaik kembali terluka. Oleh sebab itu, saya gembira, ketika kepolisian menangkap 19 Bonek yang melakukan aksi penjarahan. Hukuman berat harus diberikan kepada pelanggar hukum, tanpa pandang bulu.

Syukurlah, Bonek seperti 'membayar' perilaku negatifnya di Solo dengan tidak melakukan kerusuhan di Bandung. Kendati Persebaya kalah dari Persib, Bonek tidak melakukan kerusuhan dan bahkan berbaur dengan puluhan ribu suporter Persib. Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf pun tampak menyaksikan pertandingan itu dengan penuh senyum. Tidak ada kecemasan.

Di lain pihak, saya gembira Bonek ke Bandung, karena ini merupakan bentuk perlawanan awal terhadap PSSI dalam bentuk nyata. Sebagaimana kita ketahui, PSSI melalui Komisi Disiplin telah menjatuhkan sejumlah sanksi yang cenderung tak adil terhadap sejumlah klub, terutama klub-klub Jawa Timur.

Simak saja: Persela dan Persebaya dihukum karena nyanyian suporter yang dinilai rasis. Tak jelas, apakah PSSI sudah mempelajari arti kata rasisme dan bisa membedakannya dengan provokasi. Derajat rasisme dan provokasi jelas jauh berbeda. Saya menolak keras lagu-lagu provokatif di stadion. Namun tak adil jika kemudian kita mengatakan lagu-lagu itu sebagai bentuk rasisme.

Di lain pihak, PSSI tak menjatuhkan sanksi kepada suporter Persija Jakarta yang juga menyanyikan lagu rasis (menurut kosakata versi PSSI), saat pertandingan melawan Persebaya di Senayan beberapa waktu lalu. Bahkan, masih kuat dalam ingatan kita, dalam perhelatan semifinal Copa Indonesia 2007, suporter Persija mendapat gelar suporter terbaik, kendati sempat melakukan kerusuhan saat semifinal.��

Arema dihukum satu kali pertandingan tanpa penonton plus denda karena suporter yang meluber ke sentelban, saat melawan Persema. Padahal, tidak ada keributan dalam pertandingan itu. Persikad Depok terpaksa harus turun kasta, karena gagal menggelar dua kali pertandingan kandang. Sementara itu, Persija Jakarta yang tak bisa melaksanakan pertandingan kandang saat melawan Persebaya mendapat bantuan dari Badan Liga Indonesia. Gagal menggelar pertandingan melawan Persitara Jakarta Utara, Persija mendapat dispensasi penundaan dan bukannya sanksi sebagaimana dialami Persikad Depok.

Dari beberapa fakta di atas, sudah terang benderang betapa pedang keadilan Komisi Disiplin PSSI mengayun ke arah tertentu saja. Terakhir, di Jawa Pos Minggu (24/1/2010), petinggi PSSI sudah siap memberikan sanksi tambahan kepada Persebaya karena kenekatan Bonek melanggar larangan away selama dua tahun. Petinggi PSSI juga 'meremehkan' upaya banding Arema kepada Ketua Umum PSSI Nurdin Halid.

Dengan sekian ketidakadilan itu, maka PSSI sebenarnya sudah menggali lubang kuburnya sendiri. Selama ini, PSSI memperlakukan klub tak ubahnya sapi perahan dengan memberlakukan denda uang dalam jumlah besar, setiap kali ada kesalahan. Namun PSSI tak pernah mampu memberikan solusi tuntas terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi klub. PSSI bersikap ambigu terhadap persoalan yang dihadapi klub. PSSI menggembar-gemborkan kompetisi profesional, namun tak mempersiapkan perangkat lunak maupun keras dengan baik. Persoalan klasik klub seperti pendanaan dan suporter seolah dibiarkan menjadi persoalan klub sendiri.

Itikad baik klub maupun suporter mematuhi PSSI betapapun muaknya tidak dihargai. Sebut saja: tidak ada apresiasi positif terhadap Arema dan Aremania yang sudah bersabar menjalani dua tahun hukuman tanpa atribut. Apresiasi PSSI justru 'membunuh' Arema dengan jalan melarang satu kali pertandingan tanpa penonton, pasca luberan penonton ke sentelban saat Arema versus Persema.

Sanksi terhadap Persela dan Persebaya sebesar Rp 250 juta jelas juga membunuh. Dengan penggunaan APBD yang terbatas, praktis Persela maupun Persebaya mengandalkan tiket masuk penonton untuk menghidupi klub sebagaimana Arema. Persebaya lebih beruntung, karena mendapat pasokan sponsor dari perusahaan biskuit walau tak sangat besar. Denda Rp 250 juta yang setara dengan pendapatan satu kali laga sama saja dengan usaha pembangkrutan klub.

Jika selama ini kepatuhan terhadap PSSI ternyata tidak mendapat apresiasi, tak ada jalan lain untuk melakukan perlawanan selain pembangkangan. Pembangkangan merupakan upaya delegitimasi terhadap PSSI sebagai organisasi sepakbola nasiona yang tak beres bekerja.

Selama ini sudah banyak pihak yang berteriak menuntut agar PSSI dirombak total. Bahkan Aremania menjadi kelompok suporter pertama yang berani menyuarakan revolusi terhadap PSSI. Bahkan Aremania menggalang sejumlah suporter untuk berunjukrasa. Namun teriakan revolusi dan tuntutan perombakan seperti menyapu angin, karena semua elemen klub tak ada yang berani melawan.

Maka, apa yang dilakukan Bonek dengan tetap berangkat ke Bandung, kendati sudah dihukum dua tahun tak boleh ikut mendampingi pertandingan tandang Persebaya, merupakan bentuk lanjutan nyata dari revolusi terhadap PSSI. Jika Aremania menjadi pelopor seruan revolusi, maka Bonek menjadi pelopor pembangkangan terhadap PSSI.

Saya sempat berdiskusi dengan salah satu Bonek, ketika PSSI menjatuhkan sanksi larangan away dua tahun. Ia dengan enteng mengatakan, "Buat apa menuruti PSSI yang tidak jelas."

PSSI menjatuhkan sanksi keras terhadap Persebaya. Dan Bonek menjawab dengan tak kalah keras pula: 5.000 suporter berangkat ke Bandung. Keberangkatan para Bonek ini menjadi sinyal awal bahwa PSSI sudah tak perlu lagi dipatuhi. Tak ada lagi yang patut dibanggakan terhadap PSSI: prestasi tak jelas, tak adil pula. Pembangkangan Bonek terhadap PSSI ini sebenarnya suatu ironi, mengingat PSSI juga membangkang terhadap FIFA dengan tetap menjadikan Nurdin Halid sebagai ketua umum. Jadi ini cerita 'sang pembangkang' akhirnya 'dibangkang'.

Sayang, perlawanan Bonek terhadap PSSI ini ternoda oleh ulah sebagian Bonek sendiri yang melakukan kerusuhan di Solo. Saya membayangkan, seandainya keberangkatan Bonek ke Bandung berjalan dengan damai, tentu semakin sempurnalah upaya delegitimasi terhadap PSSI. Ke depan, saya tak henti berharap seluruh elemen Bonek tetap berupaya membenahi diri. Sulit memang menghentikan ulah para perusuh yang memanfaatkan nama besar Bonek. Saya kira, mulai saat ini, Bonek yang terorganisasi harus bekerjasama dengan kepolisian dalam melakukan pembinaan, dengan jalan memberikan dukungan kepada aparat untuk menindak tegas para perusuh yang memakain nama Bonek. Dengan demikian para Bonek yang tidak berbuat anarkis bisa terhindar dari cap negatif.

Terakhir, saya tidak tahu sanksi apa yang bakal dijatuhkan PSSI terhadap Persebaya karena perlawanan Bonek itu. Hinca Panjaitan di Jawa Pos (24/1/2010) meminta klub bersiap-siap menanggung dosa suporter. Pertanyaannya: siapakah yang akan menanggung dosa PSSI selama ini? Dosa akibat pembangkangan terhadap FIFA dan dosa lainnya berupa paceklik prestasi tiada akhir, siapa yang bakal menanggung?
Yang terang, saya melihat, kebangkitan sepakbola Indonesia akan berawal dari Jawa Timur. Aremania sudah mempelopori seruan 'Revolusi PSSI'. Kini, giliran Bonek mempelopori delegitmasi terhadap PSSI.


sumber

Suporter Boleh Bersorak, Jangan Melempar

Pekanbaru, Tribun - Boleh Bersorak, Jangan MelemparKetua umum PSPS Pekanbaru Herman Abdullah, meminta kepada suporter dan masyarakat umum setiap kali menyaksikan Dzumafo Herman cs bertanding, untuk tetap menjaga ketentraman Stadion Sport Center Kuansing. Hal ini dikatakan Herman agar kericuhan tidak terjadi.

Sejauh ini memang kericuhan saat pertandingan kandang yang di lakoni PSPS di Kuansing, belum ada kericuhan yang berarti. Hanya ada keributan-keributan kecil saja.

Seperti diketahui, saat laga PSPS vs Deltras Sidoarjo pada Senin (5/12) lalu, berjalan dalam tempo yang cepat dan panas. Apalagi setelah PSPS tertinggal dari Deltras satu gol. Tensi tinggi itu akhirnya membuat pemain belakang PSPS Park Chul-hyung terlibat pertengkaran dengan pemain trengah Deltras, Fahkrudin.

Pertengkaran antara Park dan Fahkrudin merupakan klimaks dari panasnya permainan sore itu. Ternyata bukan hanya di lapangan saja yang panas, para penonton pun tersulut emosi akibat berbagai insiden di lapangan.

Tak ayal, botol minuman ringan pun beterbangan ke lapangan yang datang dari arah kursi penonton. Sasaran yang dituju adalah kubu Deltras, terutama jajaran ofisial yang ada di bench  cadangan. Bahkan pelatih Deltras, Jorg Peter, juga sempat terkena lemparan.

Melihat insiden ini, Herman Abdullah meminta agar suporter dan masyakat yang menonton tidak terpancing provokasi tim lawan. Herman juga meminta agar suporter PSPS tidak melakukan pelemparan.
"Kita harapkan penonton boleh bersorak, tapi jangan sampai melempar," harap Herman usai menyaksikan laga PSPS vs Deltras di Kuansing, Senin (5/12) lalu.

Selain meminta suporter dan penonton menjaga ketenangan, Herman juga meminta agar pihak lawan yang datang ke Kuansing tidak memprovokasi suporter dan penonton. Sebab keributan kecil yang terjadi bersumber dari provokasi lawan.

"Pelatih lawan juga jangan memancing-mancing. Jangan memprovokasi. Pelatih dan asisten selalu di pinggir garis lapangan. Itu yang terjadi saat melawan Deltras. Itu memprovokasi," ucap Herman.

Namun ia menegaskan, keributan besar tidak boleh terjadi di Kuansing akibat pertandingan sepakbola ini. Bila itu sampai terjadi, maka PSPS sendiri yang akan rugi besar.
"Mudah-mudahan tidak terjadi (keributan besar). Soalnya kita bisa kena diskualifikasi. Kita harus sama-sama menjaganya," pesan Herman.

sumber

Aremania Tuntut Instal Ulang PSSI


Malang  - Laga perdana Arema Indonesia di Indonesia Super Leageu (ISL) menjadi ajang curhat (curahan hati) atau lebih tepatnya hujatan Aremania terhadap Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Jelang laga melawan Persela Lamongan, di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Aremania membentangkan beberapa spanduk. Rata-rata menyatakan dukungannya terhadap Arema versi Rendra Kresna. Tetapi yang lebih menyolok, hujatan terhadap PSSI.

Beberapa spanduk tersebut bertuliskan 'Instal Ulang PSSI'. Ada pula yang bertuliskan 'Johar CS Jangan Kau Rusak Sepakbola Indonesia'.

Pada laga ini, tuan rumah Arema menurunkan beberapa pemain intinya. Termasuk, striker baru Marcio Souza dan Dicky Firasat yang notabene, pernah membela Laskar Joko Tingkir Persela.

sumber 

5 Des 2011

Interisti Indonesia Tunggu Kedatangan Inter Milan

JAKARTA - Kelompok superter Inter Milan di Tanah Air, Inter Club Indonesia (ICI), menyambut sukacita rencana kedatangan tim kesayangannya tersebut. Maklum, inilah kali pertama tim pengoleksi 18 Scudetto dan tiga trofi Liga Champions itu tur ke Jakarta.   

"Saya pribadi beserta teman-teman sangat senang. Akhirnya Inter Milan bisa datang ke Jakarta. Ini adalah momen yang sudah kami tunggu-tunggu," ujar pengurus ICI, Firkiansyah, kepada Tribunnews.com, Sabtu (3/12/2011).

Menurut Virqi Khebot --panggilan Firkiansyah, sudah sejak lama pengurus ICI ingin mendatangkan Inter Milan ke Indonesia. Ketua Umum ICI, Entong Nursanto, pun sudah beberapa kali ke Italia bertemu dengan Presiden Inter Massimo Moratti untuk merencanakan hal tersebut.

"Mendatangkan Inter Milan ke Indonesia memang sudah masuk agenda pengurus. Sebelumnya kita sudah berhasil mewujudkan membuat web Inter Milan berbahasa Indonesia," ungkapnya.  
Selain ke Asia Tenggara, Wesley Sneijder dkk juga merencanakan melakukan tur ke India pada pramusim tahun depan. Direktur Eksekutif Inter, Ernesto Paolillo, tengah membahas rencana ini bersama dewan federasi perdagangan dan industri India (FICCI).

"Kami akan mempelajari proposalnya. Pertengahan Mei nanti kita sudah menyelesaikan kompetisi. Jadi kami pikir bisa melakukan tur antara Mei dan Juni (tahun depan)," katanya dikutip sports.ndtv.com, kemarin.

sumber 

29 Nov 2011

Donasi dan Simpati untuk Korban Tewas di GBK oleh FDSI

Jakarta - Suporter Indonesia mengadakan aksi sosial penggalangan dana untuk korban tewas di final sepakbola SEA Games XXVI. Ke depannya, diharapkan tak ada lagi suporter yang tewas di stadion.

Aksi penggalangan dana tersebut dilakukan oleh Forum Diskusi Suporter Indonesia (FDSI) lewat jejaring sosial Facebook. Dalam aksi selama tiga hari tersebut, terkumpul dana sekitar Rp. 3.165.000 dan US$ 100.

Uang tersebut kemudian diserahkan kepada keluarga kedua korban tewas, Reno Alvino dan Aprilianto Eko Wicaksono.

“Nantinya dana yang terkumpul akan dibagi untuk kedua korban meninggal," ungkap admin FDSI, Djundan Hidayat, dalam rilis yang diterima detikSport.

"Kaget juga dengan respons positif dari member. Padahal, kebanyakan dari kami hanya saling mengenal di dunia maya saja dan belum pernah bertatap muka. Bahkan, dari penyumbang ada yang berdomisili di luar negeri," katanya.

Minggu (27/11/2011) kemarin, beberapa berwakilan Save Our Soccer dan FDSI berkunjung ke rumah almarhum Reno di daerah Cawang, Jakarta Timur. Dalam kesempatan tersebut, keluarga Reno berharap peristiwa yang menimpa Rena tak terulang.

"Jangan sampai terjadi lagi. Kalau bisa semaksimal mungkin keamanan dan kenyamanan diperhatikan dari pihak penyelenggara,” ucap kakak tertua Reno, Rini.

Reno (20 tahun) dan Aprilianto (14 tahun) tewas saat hendak menyaksikan pertandingan final sepakbola SEA Games XXVI antara Indonesia dan Malaysia, Senin (21/11/2011) lalu. Mereka meninggal setelah terinjak-injak suporter lain yang berdesak-desakan dan berebut masuk di pintu 15 Gelora Bung Karno.

Dalam insiden tewasnya Reno dan Aprilianto, satu hal yang disayangkan adalah lambatnya penanganan pihak medis. Kabarnya, jenazah Reno sempat tertahan selama dua jam di dalam mobil ambulans karena tidak ada tenaga medis yang stand by.

"Sangat disayangkan, di dalam ambulans tidak ada tenaga medis yang berjaga. Meski adik saya sudah meninggal, harusnya ada yang mendampingi untuk sekadar membersihkan luka di leher dan kepala Reno," kata Rini.

Sementara itu, Koordinator Save Our Soccer, Apung Widadi, berharap penyelenggaraan pertandingan sepakbola selanjutnya bisa menyediakan jaminan keamanan untuk para penonton.

"Harus ada audit penyelenggaraan pertandingan di GBK yang menewaskan beberapa orang. PSSI harus menjadikan hasil audit ini sebagai bahan untuk membuat SOP pertandingan dan selalu dipegang teguh dalam setiap pertandingan. Sebagai pembayar tiket, supporter juga harus mendapatkan jaminan keamanan dan kenyamanan,” pinta Apung.



Detiksport.com

27 Nov 2011

Sejarah Berdirinya Aremania

Arema dan Arema Fans Club PS Arema didirikan pada tanggal 11 Agustus 1987 oleh H. Acub Zaenal dan Ir. Lucky Zaenal. Dari awalnya Arema klub swasta. Pada waktu Arema berdiri Liga Indonesia dibagi dua: liga untuk klub semi-profesional bernama Galatama dan Liga klub Perserikatan. Klub-klub Perserikatan tergantung pada pemerintah daerah untuk dana. Sementara klub Galatama tergantung pada sponsor swasta. Walaupun Arema belum pernah juara selama zaman Ligina, Arema juara Galatama pada tahun 1993. Pada tahun 1994 klub semi-profesional digabungkan dengan klub Perserikatan untuk menjadi Ligina.

Pada tahun 1988 yayasan Arema Fans Club (AFC) berdiri. Ketua pertamanya adalah Ir. Lucky Zaenal. Pada awalnya ada 13 korwil. Setiap korwil adalah pengurus hal suporter Arema di sebuah kampung atau daerah di Malang.

Sumber: http://sekedar-tahu.blogspot.com



Di artikel “Aremania Junjung Sportivitas” diterbitkan di Bestari, no.156, 2001 diceritakan bahwa menurut suporter Arema, AFC itu sangat individual, yaitu berkaitan dengan hubungan antara suporter dengan suporter lain. Akibatnya AFC terhadap kesulitan mendorong kerukunan suporter. AFC pernah dianggap sebagai yayasan yang terlalu ekslusif maupun kelas menengah untuk diterima oleh kebanyakan suporter Arema.

Sekitar tahun 1994 AFC dibubarkan. Menurut Lucky Zaenal itu karena banyak kesibukan dan soal generasi. Walaupun keadaan tokoh-tokoh AFC pasti mempengaruhi keruntuhan AFC, harus ditanyakan mengapa AFC tidak diteruskan oleh kelompok atau orang baru. Mungin itu tidak terjadi karena sudah jelas bahwa AFC tidak didukung oleh suporter. Barangkali tokoh-tokoh AFC sadar pada fakta itu. Makanya mantan-tokoh AFC langsung terlibat dalam proses mengembangkan nama dan simbol yang akan mempersatukan suporter. Memang tidak semua inisiatif AFC gagal. Harus diingatkan bahwa dengan AFC mulai sistem organisasi suporter yang berdasarkan pada korwil. Korwil-korwil tidak hilang dengan kematian AFC tetapi jumlahnya bertambah. Di samping itu AFC berdiri dalam konteks keras yaitu pada waktu geng-geng pemuda Malang merupakan para suporter Arema.

Brutalisme ke Hooliganisme
Ada dua istilah yang dipakai untuk menggambarkan suporter yang tidak sportif dan membuat kerusuhan: suporter brutal dan hooligan. Artinya dua istilah hampir sama. Perbedaan antara dua istilah itu hanya soal konteks. Istilah hooligan itu berasal di luar konteks Indonesia dan bersifat perbandingan. Istilah suporter brutal lebih sering dipakai dalam konteks Indonesia. Hooligan sama dengan suporter brutal karena yang jelas kegiatannya berdasarkan pada egoisme buruk. Seorang hooligan mau membuat kerusuhan dan kekerasan untuk membesarkan egonya. Seorang hooligan tidak ikut pertandingan untuk menikmati sepak bola tetapi untuk membuat kericuhan. Seorang Hooligan adalah musuh perkembangan sepak bola apalagi komunitas suporter murni. Akhirnya kalau memakai contoh suporter brutal Arema kelihatannya perbedaan antara dua istilah hanya soal konteks.

Geng-geng ini membuat suasana menakutkan di stadion. Tempat pertandingan menjadi kesempatan untuk geng-geng tersebut membuktikan siapa yang paling keras. Persaingan keras antara geng-geng terjadi walaupun semuanya medukung Arema. Jadi semua upaya untuk membuat suporter Arema rukun dan kompak dihalangi. Tawuran terjadi antara suporter Malang dan suporter dari luar tetapi juga di antara para suporter Arema sendiri. Bentrokan tidak terjadi karena provokasi tetapi disebab oleh suasana brutalisme ditimbulkan suporter Malang. Masih diingatkan oleh suporter Arema (dengan malu) bahwa suporter Malang brutal sebelum suporter Surabaya menjadi brutal. Akhinrya, waktu antara 1987 dan pertengahan tahun 1990-an suporter Arema membuktikan bahwa mereka bisa mengimbangi egoisme Hooligan Inggris. Suporter Malang menjadi terkenal sebagai Hooligan Indonesia. Sering selama akhir 1980-an dan awal 1990-an sering ada tawuran antara suporter Surabaya dan Malang. Sayangnya persaingan keras itu antara Bonek dan suporter Arema sulit dibatasi. Di Surabaya orang dari Malang diganggu dan kendaraan yang berplat N (plat Malang) dirusak.

Sementara di Malang kendaraan yang berplat L (plat Surabaya) mengalami hal yang serupa. Pada tahun 1992 ada semacam `sweeping’ menghadapi orang yang berKTP Surabaya. Polisi terpaksa melakukan operasi untuk menghentikan aski brutal itu. Akhirnya permusuhan berkembang antara orang kedua kota Jawa Timur tersebut melainkan antara suporter saja. Lagipula Bonek nama suporter Surabaya menjadi istilah berarti hooligan Indonesia. Jadi kata bonek yaitu yang tidak pakai huruf besar artinya hooligan walaupun Bonek itu berarti suporter Surabaya. Karena persaingan keras itu sering Aremania dan Bonek dianggap sama saja. Khususnya di luar Malang banyak orang yang bersikap bahwa Aremania adalah bonek juga. Banyak orang tidak membedakan antaranya. Selama tahun-tahun itu masyarakat Malang tutup jendela dan mengunci pintu kalau ada pertandingan Arema. Sekarang suporter Arema telah benar-benar maju tetapi terhadap peringatan masyarakat yang menganggap bahwa mereka masih brutal.

Aremania muncul
Pada pertengahan tahun 1990-an geng-geng Malang mulai luntur. Sementara itu istilah Aremania muncul sebagai nama para suporter Arema. Sebetulnya dua fenomena tersebut merupakan perubahan total dalam budaya pemuda Malang yang dikatalisasikan oleh beberapa tokoh. Di artikel `Aremania Mengukir Sejarah Baru’ diterbitkan di Bestari, no. 156, 2001 Gus Nul mantan pelatih Arema menceritakan bahwa walaupun kurang jelas dari mana istilah Aremania itu muncul, nama itu mempersatukan suporter Arema. Secara psichologis persamaan dasar antara Arema dan Aremania membuat suporter merasa bersatu. Kata Aremania bisa dibagi Arema dan Mania. Aremania itu muncul secara spontan dari suporter Malang yang mulai bosan dengan perkelahian geng-geng tersebut. Ada beberapa alasan untuk perubahan itu. Pertama-tama geng-geng mulai luntur karena soal generasi. Anggota geng walaupun masih muda selama akhir 1980-an, di pertengahan 1990-an lebih dewasa. Karena sudah lumayan tua mulai bosan dengan kegiatan geng.

Di samping itu, pada 1994 Ligina yang pertama dimulai dan PSSI mulai mendorong sepak bola Indonesia menjadi lebih profesional. Pemain asing mulai main untuk klub Indonesia. Itu termasuk upaya untuk menaikkan kualitas liga sepak bola. Pemain asing pernah main untuk Arema. Pernah ada pemain dari Afrika, Amerika Selatan, Korea Selatan dan juga Australia. Dari semua ini yang paling terkenal ada pemain dari Negara Chile bernama Rodriguez `Paco’ Rubio. Sekarang menurut suporter Malang dia semacam pahlawan sepak bola Arema. `Paco’ Rubio menembus gol lawan selama putaran Delapan Besar Ligina VI. Di samping itu, selama Ligina VII ada pemain dari Afrika namanya Frank Bob Manuel yang dengan sayang dipanggil `Bobby’ (selama Ligina VIII main untuk klub perserikatan Malang Persema). Selama Ligina VIII Jaime Rojas (mantan pemain Persema) juga berasal dari Chile masuk klub.

Dengan berupaya ke profesionalisme suporter mulai lebih tertarik pada permainan khususnya karena impor pemain luar negeri. Juga ada pemain lokal yang menjadi bintang. Misalnya Ahmad Junaedi selama Ligina VI tetapi setelah itu dia pindah ke Persebaya dan menjadi musuh suporter fanatik. Akhirnya mau kembali ke Arema dia ditolak oleh pengurus Arema. Daripada membeli Junaedi lagi mereka memilih mendidik pemain muda berasal dari Jawa Tengah bernama Johan Prasetyo. Johan Prasetyo telah menjadi bintang Aremaa. Selain Prasetyo ada Aji Santoso, pemain yang berpengalaman itu pernah main untuk timnas Indonesia.

Sebenarnya munculnya generasi geng dapat dicegah karena upaya tokoh Aremania. Di artikel `Aremania Sebuah Gerakan Rakyat’ diterbitkan di Kompas, 1 April 2002 diceritakan bahwa suporter didorong oleh tokoh seperti Ovan Tobing, Lucky Zaenal, Iwan Kurniawan, Eko Subekti dan Leo Kailolo untuk menjadi suporter bersatu dan sportif. Pasti mereka sadar bahwa suporter brutal akan merugikan PS Arema, dan kalau klub Arema akan berusaha ke profesionalisme seharusnya suporter juga. Tokoh yang tersebut membantu membangun simbol klub Arema yang telah menjadi simbol suporter juga. Di artikel `Aremania junjung sportivitas’ diterbitkan di Bestari, no 156 2001 bahwa tokoh perintis ini mengusulkan Aremania dijuluki `Macan Putih’ atau `Singa Putih’ karena Arema berdiri pada 11 Agustus yang termasuk zodiak Leo. Kemudian secara spontan ada orang antaranya yang teriak `edan’. Mungkin itu mucul dari bagian belakang istilah Aremania yaitu `mania’. Kata `mania’ berarti edan.

Dari latar belakang nama Aremania dan simbol Singo Edan semacam bahasa Malang berkembang. Kata-kata bahasa Indonesia dan bahasa Jawa terbalik merupakan bahasa Malang atau fenomena Ngalamania. Misalnya Singo Edan menjadi Ongis Nade dan Orang Malang menjadi Genaro Ngalam. Di samping itu arek-arek Malang menjadi Kera-kera Ngalam. Surat kabar Radar Malang itu Jawa Pos-nya Kera Ngalam. Sekitar pertengahan tahun 1990-an suporter Arema mulai berubah. Citra negatif terhadap suporter Arema ada sampai sekarang tetapi selama beberapa tahun yang lalu Aremania pernah diakui sebagai suporter Indonesia terbaik.

26 Nov 2011

Nama Suporter Klub-Klub Sepakbola di Indonesia

Suporter merupakan elemen penting dalam sepakbola. Pernahkah kalian melihat suatu pertandingan sepakbola tanpa suporter...? Saya yakin kalian pernah melihatnya. Apakah kalian merasakan ada yang kurang dari pertandingan tersebut...? Pertandingan sepakbola tanpa suporter bisa diibaratkan sayur tanpa garam. Suporter bisa menjadi pemain ke-12 bagi tim yang bertanding. Suporter bisa memberikan kekuatan tersendiri dari sebuah tim dalam sepakbola.
Di Indonesia banyak kita temukan kelompok suporter yang mendukung klub kesayangan mereka. Dan saya fikir hampir semua klub sepakbola profesional di Indonesia mempunyai suporter. Para suporter ini menggunakan berbagai atribut dan kostum kebanggaan mereka di setiap klub yang mereka dukung sedang bertanding. Mulai dari topi, slayer, kaos, bendera, dan atribut lainnya selalu melekat pada diri mereka. Bahkan ada juga beberapa suporter yang rela untuk mengecat muka mereka sampai seluruh badan mereka demi mendukung tim kesayangannya.
Fenomena suporter di Indonesia semakin menarik karena setiap suporter memberikan nama kelompok suporter dengan nama-nama yang unik. Nah kali ini saya mencoba untuk sedikit berbagi tentang nama-nama suporter klub sepakbola yang ada di Indonesia. Silahkan di simak hehe...

-Persiraja Banda Aceh = SKULL (Suporter Kutaraja Untuk Lantak Laju)
-PSSB Bireuen = Laskar Juang Mania
-PSAP Sigli = The LAN Mania, Pasukan Aneuk Rimba Raya
-PSLS Lhokseumawe = Pasee Mania
-PSMS Medan = Kampak Fans Club
-PSDS Deli Serdang = Antrak
-Semen Padang = The Kmers
-PSPS Pekanbaru = Ashkar The King
-Persih Tembilahan = *
-Persires Rengat = *
-PS Bengkulu = Panglimania
-Sriwijaya FC = Sriwijaya Mania

-Persita Tangerang = Benteng Viola
-Persikota Tangerang = Benteng Mania
-Persija Jakarta = The Jak Mania
-Persitara Jakarta Utara = NJ Mania (North Jak)
-Pro Titan FC = Protitanisti
-Persikabo Bogor = Kabo Mania
-Persipasi Bekasi = Patriot Mania, SOEBEX
-Persib Bandung = Viking
-Persikab Kabupaten Bandung = Green Wolf
-Pelita Jaya = Young Guns & Roses

-PSIS Semarang = Panser Biru, Snex
-Persijap Jepara = Banaspati, Jetman
-PSIR Rembang = Ganster
-Persis Solo = Pasoepati
-PSIM Yogyakarta = Brajamusti, Maiden
-PSS Sleman = Slemania
-Persiba Bantul = Paser Bumi
-PPSM Sakti Magelang = Simalodra
-Persiku Kudus = Basoka (Bala Suporter Kudus Raya)
-PSCS Cilacap = Laskar Nusakambangan

-Persela Lamongan = LA Mania
-Persik Kediri = Persikmania
-Persibo Bojonegoro = Boromania
-Persema Malang = Ngalamania
-Arema Malang = Aremania
-Persekam Metro FC = Metromania
-Deltras Sidoarjo = Delta Mania
-Gresik United = Ultras Gresik
-PSBI Blitar = Singo Lodro
-Persebaya Surabaya = Bonex Mania
-Persekabpas Pasuruan = Sakera Mania
-PSMP Mojokerto Putra = EMPE Mania
-Persipro Probolinggo = Jinggomania

-Persiba Balikpapan = Balistik
-Persisam Putra Samarinda = Pusam Mania
-Bontang FC = Bontang Mania
-Mitra Kukar = Mitman (Mitra Mania)
-Persikubar Kutai Barat = *
-PS Barito Putra = Barito Mania

-PSM Makasar = The Macs Man
-Persmin Minahasa = Manguni Fans Club
-Persibom Bolaang Mangondow = Bom Mania
-Persigo Gorontalo = Blue Devil, Laskar Sentral
-Persemalra Langgur = *

-Persipura Jayapura = Persipura Mania
-Persiwa Wamena = Persiwa Mania
-Perseman Manokwari = Persemania
-Persidafon Dafonsoro = Dafomania
-Persiram Raja Ampat = *
-Perseru Serui = Superman

* = blm tahu nama suporternya, harap maklum... bagi kalian yg tahu mohon di share.. hehe...



Sumber  

Gerakan Pencerahan Arek-Arek Bonek

KINI telah tumbuh gerakan pencerahan di kalangan arek-arek Bonek. Jaringan itu menyebar di Surabaya, Jogjakarta, dan Jakarta. Mereka adalah anak-anak muda yang berusia antara 20 sampai 30 tahun. Mereka tidak rela arek-arek Bonek selalu dipojokkan dalam konotasi negatif.

Sebelum landing ke Bandara Bonek, kami ingin menjelaskan mengapa beberapa tulisan kami di sportjatim.com bertemakan Bonek?

Pertama, Bonek adalah pelopor gerakan tret-tet-tet ke Senayan Jakarta era Green Force Persebaya Divisi Utama PSSI Perserikatan 1986/1987 silam. Waktu itu, belum ada satu kubu suporter pun yang tret-tet-tet secara terorganisasi mengiringi tim kesayangannya melakoni babak Enam Besar Divisi Utama Perserikatan. Waktu itu, hanya Bonek yang go to Senayan dengan mengenakan busana kebesaran berupa kaos warna hijau dengan gambar atau logo Wong Mangap (orang berteriak penuh semangat dan keberanian).Memang, waktu itu belum ada julukan Bonek. Mereka dikenal dengan nama para suporter Green Force Persebaya. Pelopor dari gerakan tret-tet-tet ini adalah Jawa Pos, lebih tepatnya adalah Pak Dahlan Iskan yang sekarang menjadi Big Boss Jawa Pos & Group.

Waktu itu, Jawa Pos membuat ribuan kaos berlogo Wong Mangap, dan dijual dengan harga murah. Seingat kami pada 1987 itu seharga Rp 1.000 per potong kaos. (Harga rokok Gudang Garam kretek isi 10 masih Rp 300 per pak). Pendek kata, Senayan dihijaukan oleh arek-arek Suroboyo. Mereka membentang spanduk raksasa yang digantungkan di atas tribun timur dan barat. Luar biasa! Sayang, di final Persebaya kalah 0-1 oleh PSIS Semarang. Namun, semuanya berjalan tertib, tidak ada kerusuhan apa pun.

Usai final, beberapa suporter Green Force menyalami Syamsul Arifin dan kawan-kawan. Ada yang bilang: ’’Ojo sedih Cak. Tahun ngarep insya Allah Persebaya juara!’’

Tembusnya Persebaya ke babak final pada 1986/1987 sudah merupakan gebrakan yang luar biasa. Sebab, pada musim kompetisi 1985/1986 Persebaya terpuruk di peringkat ke-9 dari seluruh (10) klub Divisi Utama. Raihan terburuk sepanjang sejarah Persebaya kala itu. Itulah sebabnya Pak Dahlan Iskan, waktu itu masih Pemimpin Redaksi Jawa Pos, mengundang parar tokoh sepak bola Surabaya untuk merumuskan solusi kebangkitan kembali Persebaya. Bang Moh – sapaan akrab Mohammad Barmen, Pak Tiyanto Saputra dan tokoh-tokoh lainnya sarasehan di ruang redaksi Jawa Pos, di lantai 2 Kantor Jawa Pos di Jalan Kembang Jepun. Setelah itu Pak Dahlan pergi ke Inggris untuk mengamati Premier League Inggris, termasuk perilaku para suporternya. Sepulang dari Inggris itulah ide tret-tet-tet dengan kaos kebesaran dan slayer suporter Green Force Persebaya muncul! Logo Wong Mangap kali pertama diciptakan oleh Mister Muhtar, desainer grafis Jawa Pos. Loga pertama bercorak ekspresionis. Kemudian diubah pada musim kompetisi 1988/1989 dengan Wong Mangap bercorak naturalis seperti yang kita lihat sampai sekarang. Dan, sejak itu pula julukan Bonek dilansir oleh redaktur olahraga Jawa Pos, termasuk oleh saya sendiri sebagai redaktur olahraganya.

Istilah Bonek, seperti yang kami singgung dalam tulisan sebelumnya, dimaksudkan untuk mewarisi karakter pejuang nan pemberani dan pantang menyerah dari kakek moyang arek-arek Suroboyo pada tahun 1945. Peristiwa heroik dan bersejarah yang melahirkan Hari Pahlawan 10 Nopember! Semangat berani karena benar, pantang menyerah, tali duk tali layangan, awak situk ilang-ilangan itulah yang harus menitis dalam jiwa dan perilaku Bonek sepanjang zaman!

Bahwa kemudian dalam perjalanannya terjadi berbagai kerusuhan yang disebabkan oleh ulah Bonek, sungguh hal ini sangat memprihatinkan bagi seluruh warga Surabaya. Karena itu, sekarang bukalah lembaran sejarah baru: Bonek yang pro fair play, yang cinta damai, anti anarkisme, dan pembela sejati Green Force Persebaya!

Itu tadi secuil flash back perjalanan sejarah Bonek.

Kedua, kami melihat adanya ketidakadilan dari perlakuan media massa terhadap Bonek. Prinsip-prinsip cover both side dan balancing sepertinya telah diingkari oleh media massa. Barangkali, kami bisa dikatakan melakukan pleidoi (pembelaan) terhadap arek-arek Bonek. Maka, kami pun akan menjawab: ’’Ya!’’

Ketika arek-arek Bonek melakukan kerusuhan, beritanya diposisikan sebagai head line (HL) dengan foto besar-besar. Padahal, sebenarnya kita belum tahu persis siapa yang memicu kerusuhan. Misalnya saling lempar antara Bonek dengan warga Jawa Tengah. Siapa yang bisa membuktikan bahwa pelempar awalnya Bonek, atau sebaliknya pelempar awalnya warga Jateng.

Betapa pun, kita semuanya yang mencintai Persebaya tetap prihatin terhadap kejadian yang sangat tidak diinginkan itu. Di dalam hati kita berdoa: ’’Semoga Allah SWT membimbing arek-arek Bonek menjadi suporter sejati yang layak jadi panutan suporter Nusantara. Jauhkanlah mereka dari tindakan-tindakan emosional yang merugikan nama besar Bonek dan Persebaya. Kembalilah pada semangat Bonek seperti musim kompetisi divisi utama perserikatan 1986/1987. Kobarkanlah kembali heroisme para pejuang kemerdekaan 1945 di Surabaya yang luhur dan mulia itu. Amin.’’

Kerusuhan sebenarnya sudah ada pada 1987/1988 yang dilakukan arek-arek Bonek yang di luar koordinasi Jawa Pos. Kejadian saling lempar dalam perjalanan kereta api yang mengangkut Bonek dari Jakarta pulang ke Surabaya. Waktu itu Jawa Pos pun membayar kerugian yang dialami PJKA sekarang PT KAI sebesar Rp 50 juta.

Nah, ketika belakangan arek-arek Bonek melakukan gerakan pencerahan, menjalin hubungan damai kembali dengan Pasoepati – julukan suporter Persis Solo, gerakan ini tak diberitakan sama sekali. Ketika Arema juara ISL 2009/2010, dan Aremania melakukan pesta juara di Malang, ada sejumlah oknum Aremania yang merusak mobil-mobil berplat L. Tapi, tak lama kemudian, sejumlah Aremania lainnya menghajar sendiri oknum-oknum Aremania yang berbuat rusuh itu.

Keesokan harinya, arek-arek Bonek mencegat mobil-mobil berplat N. Mereka sama sekali tidak melakukan kerusakan, malahan sebaliknya memberikan bunga kepada sang sopir. Firman, yang di akun facebook bernama Bonek Pinggiran Kota menceritakan, waktu itu sopir dan penumpang mobil berplat N sempat ketakutan. Namun, setelah mereka disapa ramah dengan pemberian bunga tanda cinta damai, mereka pun tersenyum.

Peristiwa ini pun sama sekali tidak diberitakan oleh media massa.

Ketiga, secara tidak sengaja kami berkomunikasi dengan sejumlah Bonek. Ada yang dari Jakarta antara lain Andhi Bonek Jakarta, Sawoenggaling Soerabaja, ada yang dari Jogja antara lain Fajar Junaedy, 28 tahun, dosen broadcasting Universitas Muhammadiyah Jogjakarta yang juga Bonek. Ada Dyota, Bonek Pinggiran Kota, Yudha Bonek, Dedy Ambon dari Surabaya.

Ketika berkontak ria soal sepak bola, kami pun terkejut. Ternyata kalimat-kalimat dan pemikiran mereka cerdas. Mereka mencintai sepakbola dan menyayangi klub Persebaya dengan wawasan yang luas.

Di situ kami baru tahu, mengapa mayoritas Bonek lebih pro Persebaya 1927. ’’Kami sebenarnya membela kedua-duanya, baik Persebaya 1927 maupun Persebaya Divisi Utama. Tapi setelah Persebaya Divisi Utama bermain di kandang dengan bantuan penalti-penalti palsu, didukung dengan tindakan wasit yang tidak fair, kami pun kecewa berat. Karena itu sekarang hampir semua Bonek pro Persebaya 1927,’’ kata Yudha Bonek.

Pecahnya Persebaya menyadi Persebaya 1927 dan Persebaya Divisi Utama itu sendiri adalah korban dari pertarungan elite sepak bola nasional. Hanya Persebaya yang terbelah dua! Karena itu, arek-arek Bonek mendambakan kembalinya SATU PERSEBAYA!

Kini, tumbuh lapisan baru arek-arek muda Bonek yang gencar melakukan gerakan pencerahan. Mereka berjuang keras menegakkan kedamaian. Bahkan arek-arek Bonek Jakarta dan Jogja kini sedang membikin Buku Sejarah Bonek. Fajar Junaedy dari Jogja juga membuat VCD Sejarah Bonek. Dia telah mewawancarai pencipta logo Wong Mangap, yaitu Mister Muhtar dan Budiono, termasuk kami sendiri dan beberapa saksi sejarah tret-tet-tet 1986/1987. Mereka adalah anak-anak muda intelek, kreatif, mempelajari berbagai pengetahuan tentang sepak bola dengan rajin membuka situs. Mereka berdebat dengan rasional dan dengan hati yang dingin. Semoga gerakan pencerahan arek-arek Bonek ini menemukan puncak yang gemilang. Hal ini ditandai dengan semakin ramah dan sportifnya arek-arek Bonek di mana pun berada.

Perlu diingat, soal kerusuhan suporter bukan hanya Bonek yang melakukan. Berbagai fakta menjadi bukti. Kubu-kubu suporter lain pun melakukan kerusuhan. Mungkin lebih tepat disebut oknum-oknum, bukan kubu suporter secara keseluruhan. Bahkan suporter di negara yang maju dan menjadi nenek moyangnya sepak bola pun, kerusuhan suporter masih saja ada. Semoga pejuangan lapisan muda intelektual Bonek itu menuai hasil gemilang. Amin.*

Slamet Oerip Prihadi (Sportjatim.com)

:: KOLEKSI FILM XZONE ::

Entertainment

Random Post

HP BISPAK




Total Tayangan Halaman

Categories

Blogger Tricks

SPONSOR

Popular Post

Trending Topic

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Terbaru

?">index'); document.write('

var numposts = 5;var showpostthumbnails = true;var displaymore = false;var displayseparator = false;var showcommentnum = false;var showpostdate = false;var showpostsummary = true;var numchars = 60; ?max-results=10">Label 1

'); document.write(" ?max-results="+numposts+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts\"><\/script>");
?">index'); document.write('

var numposts = 3;var showpostthumbnails = true;var displaymore = false;var displayseparator = false;var showcommentnum = false;var showpostdate = false;var showpostsummary = true;var numchars = 60; ?max-results=10">Label 2

'); document.write(" ?max-results="+numposts+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts\"><\/script>");
?">index'); document.write('

var numposts = 3;var showpostthumbnails = true;var displaymore = false;var displayseparator = false;var showcommentnum = false;var showpostdate = false;var showpostsummary = true;var numchars = 60; ?max-results=10">Label 3

'); document.write(" ?max-results="+numposts+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts\"><\/script>");

Fakta

Alam Nyata

antv TRANS7 GLOBAL TV RCTI SCTV MIVO TRANS TV INDOSIAR MNCTV METRO TV
TV ONE
BALI TV
JAK TV
TVRI
Yes TV
ESPN HD
/
ESPN 2
espn
Arena TV
TV ONLINE RINDI TV
TV ONLINE RINDI TV
TV ONLINE RINDI TV

Entri Populer

Follower